Oke, sekarang gue punya cerita horror. Dan semoga lo masih berani keluar malem. Apalagi malem minggu. Karena ini adalah kisah yang benar-benar horror dan menakutkan. Tolong bacalah sampai bawah.
Gue ingat, waktu itu adalah MALAM MINGGU. Perut gue ingin sekali-kali diisi makanan luar. Maksud gue makan di luar, tapi bukan di luar rumah sambil ngeliatin cabe murah sliweran depan rumah. Bukan, maksud gue adalah tidak-makan-dirumah.
Selanjutnya dengan perut kekosongan, gue pergi sendiri malem itu, mencari sajen biar gue ngga jadi serigala. *plis, ini bukan ggs*
Sesampainya di warung angringan langganan gue di seberang pantura sana. Gue mendapati DUA SEJOLI PACARAN yang sedang suap-suapan. Gue curiga, ada beberapa kemungkinan mengapa mereka ini pacarannya suap-suapan:
1. Mungkin cowonya adalah idiot, atau stroke, tidak bisa memegang sendok sendiri, jadi dia minta suapin cewenya.
2. Memungkinkan cowo ini takut kotor, jadi minta suapin cewenya, dan
3. Mungkin cowo ini adalah cowo manja yang kemana mana netek mamanya.
Gue malah liat mereka ini seperti anak idiot dengan baby sitter yang selalu melayaninya.
Next, seperti biasa gue makan beberapa porsi CATRICE *nasikucing*. Dan gue baru sadar kalo di angkringan itu hanya ada cowo idiot, cewe baby sitter, dan gue. Kata orang tua sih, kalo ada 2 orang, maka ke-3 nya adalah setan.
Dan gue tersendak megono yang pake sambel sambil tari sufi.
Gue baru sadar, kalo gue lah orang ke 3. Dan gue lah SETANNYA.
NB:
1. Kata kunci horror ada di kata yang dicetak kapital.
2. Waktu itu gue jomblo.
3. Gue dilanda iri.
4. Gue adalah setan.
Horror bukan?
Thanks.
Open Your Mind! Remember, tomorrow will be wonderfull. Aku hanya menutup mata, lalu merasakan, dan ku tuliskan semuanya menjadi satu di sini. Ini satu dari sekian banyak cerita hidupku. Mungkin hanya secuil. Namun berarti untukku. Dan semoga juga untukmu. Selamat membaca Jagad'rs!
Rabu, 25 Februari 2015
Minggu, 22 Februari 2015
LEVEL 10
Kejadian ini berawal hari kamis lalu, 19 Februari 2015. Dan gue sedang asik membaca novel baru gue. Yaa begitulah, gue memang gemar baca novel apalagi tentang komedi pake hati punya Raditya Dika. Novel-novel yang gue baca ini ringan, ngga terlalu berbau sastra yang ribet kaya Mahabhrata. Dan HP gue bergetar, gue lihat ada pesan blackberry messenger masuk. Ada tanda bintang di sebelah pojok kiri atas. Gue buka dan ternyata dari Windy sahabat gue. Tumben deh dia bm gue. Biasanya sih ngga pernah. Dia chat ke gue "Lagi dirumah ngga?" kaget lah, waktu itu gue belum mandi. Gue jawab lama, sengaja sih, "Iya, kenapa?" Ngga berapa lama eeh udah nongol aja di depan pintu. Dan dia sama Iwan.
Ternyata dia mau ngajak gue pergi.
Singkat cerita pergilah kita ke sebuah tempat makanan Jepang di daerah gue. Gue memesan satu piring ramen goreng, dan kita semua samaan pesennya. Windy yang lebih dulu menyebut jumlah levelnya "Level 5" dan dari belakang ada suara aneh mirip balon terbang yang bisikin ke telinga gue "Level 10 aja gad, berani ngga?" Bagi gue, level berapapun itu no problem, yang problem adalah, semakin tinggi levelnya, semakin tinggi harganya. Itulah ciri khas makanan Jepang di sini.
Iwan menantang gue untuk makan ramen goreng level 10. Gue terima tantangan Iwan, sekalian gue coba-coba sih.
Ngga berapa lama pelayan gendut yang NGGAK ramah itu dateng. Sebenernya gue agak ngga suka sama pelayan di sini, udah dandanan alay-alay, masih aja judes, lo pikir gue mau godain lo dengan senyuman maut gue? Sorry, gue cewe, lo cewe. Dan kita bukan lesbi karena kita belum saling kenal. Singkat aja, gue habis makan satu piring ramen goreng itu, jujur aja, gue masih aja laper. Bukan tambah kenyang, perut gue jadi tambah mules dan panas. Iwan juga demikian.
Keesokan harinya.
Jam 6.15 gue baru bangun. Gue terlambat bangun. Maklum, waktu itu habis liburan, jadi gue agak kaget bangun pagi. Perut gue masih mules banget, ngga tau mesti ngapain, mau boker gue takut telat masuk sekolah, akhirnya gue putuskan untuk tidak boker pagi itu. Gue mencari batu yang agak panas, tapi gue sadar, kalo pagi itu agak gerimis, jadi ngga ada batu panas. Naik motor dengan kebelet boker membuat gue seperti pemain sirkus tak bertulang, yang lemah gemulai diatas motor, sebenernya lebih mirip penari ular sih. Gue ngga bisa diem pagi itu. Sesampainya gue di sekolah, dengan perut yang MASIH mules, gue mengikuti pelajaran pertama, ya, Kimia. Sambil tari ular diatas bangku, gue ngga peduli temen-temen gue memperhatikan gue dengan muka sinis.
Sungguh gue ngga tahan lagi, gue pengen boker aja. Daripada gini tersiksa dengan tarian mules yang mirip dengan tari ularnya Dewi Sanca. Sebelum jam pelajaran ke tiga gue ijin ke belakang, gue mikir, nanti gue cebok pake apa? Akhirnya gue putuskan untuk "pinjem sebentar" sabun cuci tangan kelas sebelah. Finaly, It's a FIRST TIME I'M BOKER AT MY SCHOOL. Gue nggatau semalem mimpi apa sampe gue boker perdana dan pertama kali di sekolah. Terdengar gila, iya memang. Dan sampe saat ini gue masih membayangkan gimana suasana wc yang saat itu bersahabat dengan porsi perut gue. *porsi? Lo kira ini nasi padang?* dan ngga berselang lama, gue, gayung, dan air di dalam wc pun terusik. Ada suara dari luar yang mengetok-ketok pintu "Jagad eek... Jagad eek" setengah pengen teriak, tapi gue malu. Akhirnya gue diam dalam kesendirian ini. *dramasadis*
Sungguh kisah ini tak bisa gue simpan rapat. Dan terkadang jatuh cinta juga seperti kebelet boker, ditahan sakit, dikeluarin malu. Inilah hidup, kita yang njalanin, mereka yang berkomentar. Kadang hidup memang seanjing itu.
Gue Sabilla Bahana Jagad, terima kasih selama ini udah jadi pembaca setia gue.
Salam daun kelor! \m/
Ternyata dia mau ngajak gue pergi.
Singkat cerita pergilah kita ke sebuah tempat makanan Jepang di daerah gue. Gue memesan satu piring ramen goreng, dan kita semua samaan pesennya. Windy yang lebih dulu menyebut jumlah levelnya "Level 5" dan dari belakang ada suara aneh mirip balon terbang yang bisikin ke telinga gue "Level 10 aja gad, berani ngga?" Bagi gue, level berapapun itu no problem, yang problem adalah, semakin tinggi levelnya, semakin tinggi harganya. Itulah ciri khas makanan Jepang di sini.
Iwan menantang gue untuk makan ramen goreng level 10. Gue terima tantangan Iwan, sekalian gue coba-coba sih.
Ngga berapa lama pelayan gendut yang NGGAK ramah itu dateng. Sebenernya gue agak ngga suka sama pelayan di sini, udah dandanan alay-alay, masih aja judes, lo pikir gue mau godain lo dengan senyuman maut gue? Sorry, gue cewe, lo cewe. Dan kita bukan lesbi karena kita belum saling kenal. Singkat aja, gue habis makan satu piring ramen goreng itu, jujur aja, gue masih aja laper. Bukan tambah kenyang, perut gue jadi tambah mules dan panas. Iwan juga demikian.
Keesokan harinya.
Jam 6.15 gue baru bangun. Gue terlambat bangun. Maklum, waktu itu habis liburan, jadi gue agak kaget bangun pagi. Perut gue masih mules banget, ngga tau mesti ngapain, mau boker gue takut telat masuk sekolah, akhirnya gue putuskan untuk tidak boker pagi itu. Gue mencari batu yang agak panas, tapi gue sadar, kalo pagi itu agak gerimis, jadi ngga ada batu panas. Naik motor dengan kebelet boker membuat gue seperti pemain sirkus tak bertulang, yang lemah gemulai diatas motor, sebenernya lebih mirip penari ular sih. Gue ngga bisa diem pagi itu. Sesampainya gue di sekolah, dengan perut yang MASIH mules, gue mengikuti pelajaran pertama, ya, Kimia. Sambil tari ular diatas bangku, gue ngga peduli temen-temen gue memperhatikan gue dengan muka sinis.
Sungguh gue ngga tahan lagi, gue pengen boker aja. Daripada gini tersiksa dengan tarian mules yang mirip dengan tari ularnya Dewi Sanca. Sebelum jam pelajaran ke tiga gue ijin ke belakang, gue mikir, nanti gue cebok pake apa? Akhirnya gue putuskan untuk "pinjem sebentar" sabun cuci tangan kelas sebelah. Finaly, It's a FIRST TIME I'M BOKER AT MY SCHOOL. Gue nggatau semalem mimpi apa sampe gue boker perdana dan pertama kali di sekolah. Terdengar gila, iya memang. Dan sampe saat ini gue masih membayangkan gimana suasana wc yang saat itu bersahabat dengan porsi perut gue. *porsi? Lo kira ini nasi padang?* dan ngga berselang lama, gue, gayung, dan air di dalam wc pun terusik. Ada suara dari luar yang mengetok-ketok pintu "Jagad eek... Jagad eek" setengah pengen teriak, tapi gue malu. Akhirnya gue diam dalam kesendirian ini. *dramasadis*
Sungguh kisah ini tak bisa gue simpan rapat. Dan terkadang jatuh cinta juga seperti kebelet boker, ditahan sakit, dikeluarin malu. Inilah hidup, kita yang njalanin, mereka yang berkomentar. Kadang hidup memang seanjing itu.
Gue Sabilla Bahana Jagad, terima kasih selama ini udah jadi pembaca setia gue.
Salam daun kelor! \m/
Langganan:
Postingan (Atom)