Baru aku sadari. Aku sekarang sudah hampir dewasa. Aku
sudah memasuki kawasan perkuliahan. Jauh dari orangtua, jauh dari keluarga. Dan
tentu saja rasanya sangat menyakitkan. Terkadang aku ingin menggunakan mesin
waktu Doraemon untuk melihat kembali kenangan apa yang telah aku lalui bersama
orangtua ku, dan orang-orang di masa lalu ku.
Kenangan
saat aku masih berjalan menggunakan rak piring, saat aku masih tertatih untuk
berjalan, saat aku merekam semua kosa kata, saat aku mulai bersekolah, saat aku
bergaul dengan teman-temanku, saat aku dibully, saat aku menemukan sahabat
karibku di SMA, saat aku menemukan cinta-cinta ku yang dulu, dan tentunya waktu
luang bersama keluarga.
Baru aku sadari, aku makin tua untuk melakukan segala
hal. Rasanya aneh mandi air hujan disaat usiaku menginjak 18 tahun ini, rasanya
aneh aku bersepeda dan menggunakan botol plastik lalu diselipkan ke dalam roda
sepeda itu. Rasanya aneh untuk sekedar memeluk orangtua, rasanya aneh bermain
masak-masakan dan bersandiwara. Aneh...
Entah mengapa aku hanya ingin menulis ini. Aku merasa
ada sesuatu yang salah di dalam otakku. Rasanya seperti ada yang memaksa untuk
membuka semua momen-momen yang selama ini aku lalui. Dan itu sangat sakit. Aku
menyadari bahwa aku bukan “Billa” yang dulu memakai kaos dan celana dalam
sambil bermain sepeda mengitari pasar. Aku sangat yakin. Ada yang mengganti
diri ini.
WAKTU.
Aku berpikir bahwa waktu adalah hal yang paling kejam.
Ia merenggut semua yang aku sayangi. Aku kehilangan nenekku. Tepat, 13 Februari
2010. Tepat di hari ulang tahunku. Tepat di hari bertambahnya umurku. Waktu
juga tidak segan untuk merubah kita. Entah itu menjadi kita lebih tambah baik
atau malah sebaliknya. Aku merasa diri ini bukan diriku. Dan aku yakin itu
karena sang waktu. Aku tidak sepenuhnya menyalahkan waktu. Aku juga menyalahkan
keadaan. Keadaan sekitar yang membuat aku menjadi sosok yang sekarang ini.
Rasanya ada trauma tersendiri ketika mengingat hal yang tak ingin terjadi.
Seperti mamah dan aku keceakaan 17 Juni 2014. Saat aku dan mamahku hendak
mengambil rapot. Aku tidak bisa membayangkan hal itu. Itu sangat menyakitkan.
Memandang mamah kesakitan dan terkapar di jalan. Tak ada yang menolong. Hingga
mamah mengalami shock berat. Aku juga tidak bisa lupa. Bagaimana rasanya dikhianati
oleh orang yang kita sayangi. Begitu banyak kesedihan yang aku lalui. Hingga
aku setegar ini.
Mungkin
karena itu aku menjadi sosok sekarang ini.
Entah bagaimana nantinya dengan sifat dan sikapku
sekarang. Akankah happy ending atau sad ending? Aku tidak akan pernah tau. Yang
aku tau hanya : let it flow. Karena pertunjukkan akan segera berlalu.
MY CHILDHOOD
MASA SMP
MASA SMA
DENGAN SAHABAT
MY MY MY MY EVERYTHING
DAN KENANGAN APAPUN SELALU MENGHANTUI.
IA TAKKAN PERNAH BISA DILUPAKAN. SEKERAS APAPUN KITA MELUPAKAN.




