Desember 2014,
Saat aku tak sengaja menemukan akun FB nya di beranda kakaknya. Awalnya hanya ingin sekedar berteman. Ya, berteman. Dan aku juga menemukan akun Instagram miliknya. Aku follow dia dengan "iseng" tadinya. Aku berkomentar pada salah satu postingan fotonya "follback ya". Keisengan itu ternyata dibalas olehnya "oke :)" Akhirnya kita saling follow dan saling like tiap foto yang kita post.
Aku tak sengaja post sebuah foto waktu aku masih ada acara keluarga, di Guci, Tegal. Dia berkomentar "MashaAllah, what a pretty girl!!!" Kaget dan setengah tidak percaya, kita pun saling balas komentar. Bertukar pin. Dan akhirnya saling dekat, saling ada rasa, saling menjaga hati, saling sayang, dan saling berbagi-memberi masukan. Ya, kita pacaran, entah dari kapan.
Berjalan 4 Bulan.
Kisah ini tidak bertahan lama. Kisah ini hanya sementara, seperti pelangi yang hanya sesaat. Aku ikhlas, aku pasrah.
Ego ku mengalahkan semuanya, dia yang berusaha mengimbangiku kini tak lagi. Dan hubungan kita berakhir. Semenjak saat itu. Lost contact. Tak ada satupun yang ngasih kabar duluan. Semua menghilang begitu saja. Semua sirna, seolah-olah dia sudah melupakan semuanya. Tetapi aku masih ingat. Semuanya.
Saat ada yang lain datang...
Aku tak bisa munafik soal perasaan, saat yang lain datang dan membawa harapan baru, membawa lembaran baru yang hilang bersamanya. Akhirnya aku memutuskan melepas masa jomblo itu dengan cepat. Dari awal aku sudah ngga yakin sama hubungan yang instan. Tapi, demi melupakan dia. Aku rela jatuh cinta lagi, aku rela sakit lagi. Tapi tetap saja. Dia, masih sama, ditempat yang sama. Ya, hatiku.
Aku tak mau memunafikan ini.
Dan benar saja. Hubungan ini retak, hubungan dengan yang lain tidak bertahan lama seperti aku dengannya dulu. Seseorang yang lain itu memutuskan hubungan ini dan aku hanya bisa ikhlas. Memang, hanya "Dia" yang terbaik, yang bisa mengerti. Aku baru sadar saat ini.
Tiba-tiba singkat cerita...
Dia kembali, bersama kenangan yang dulu ada. Aku melihat ada BBM masuk, darinya. Tertulis broadcast "Chat? PING!!! me" entah itu broadcast yang ia kirimkan hanya untukku atau untuk yang lain. Aku mulai beranikan diri untuk sekedar PING!!!.
Finally, he's back!!! Aku sangat senang sekali dan entah aku harus apa. Yang penting dia kembali.
Lalu kami menceritakan semua apa yang kami lakukan setelah kami benar benar lost contact. Ya, benar. Tuhan tidak pernah membiarkan aku sendiri.
Sampai saat ini...
Semoga dia tau. Rasa ini tetap miliknya, dan rasa ini tetap seperti dulu. Aku tidak berharap lebih darinya. Whatever lah, yang penting sekarang dia di sini lagi. Masih tetap peduli seperti dulu, dia tidak pernah pergi, dia tidak pernah membiarkan aku sendiri. Aku akan menjaganya, tidak akan pernah melepasnya. Dan aku sadar, cuma dia yang bisa mengerti, dan karena dia aku bisa tau apa definisi CINTA yang SESUNGGUHNYA.
This story dedicated for SOMEONE WHO MAKE ME SMILE EVERYTIME.
I LOVE YOU TO THE MOON AND BACK!
J.
Open Your Mind! Remember, tomorrow will be wonderfull. Aku hanya menutup mata, lalu merasakan, dan ku tuliskan semuanya menjadi satu di sini. Ini satu dari sekian banyak cerita hidupku. Mungkin hanya secuil. Namun berarti untukku. Dan semoga juga untukmu. Selamat membaca Jagad'rs!
Selasa, 07 Juli 2015
Rabu, 25 Februari 2015
HORROR, SUMPAH INI HORROR.
Oke, sekarang gue punya cerita horror. Dan semoga lo masih berani keluar malem. Apalagi malem minggu. Karena ini adalah kisah yang benar-benar horror dan menakutkan. Tolong bacalah sampai bawah.
Gue ingat, waktu itu adalah MALAM MINGGU. Perut gue ingin sekali-kali diisi makanan luar. Maksud gue makan di luar, tapi bukan di luar rumah sambil ngeliatin cabe murah sliweran depan rumah. Bukan, maksud gue adalah tidak-makan-dirumah.
Selanjutnya dengan perut kekosongan, gue pergi sendiri malem itu, mencari sajen biar gue ngga jadi serigala. *plis, ini bukan ggs*
Sesampainya di warung angringan langganan gue di seberang pantura sana. Gue mendapati DUA SEJOLI PACARAN yang sedang suap-suapan. Gue curiga, ada beberapa kemungkinan mengapa mereka ini pacarannya suap-suapan:
1. Mungkin cowonya adalah idiot, atau stroke, tidak bisa memegang sendok sendiri, jadi dia minta suapin cewenya.
2. Memungkinkan cowo ini takut kotor, jadi minta suapin cewenya, dan
3. Mungkin cowo ini adalah cowo manja yang kemana mana netek mamanya.
Gue malah liat mereka ini seperti anak idiot dengan baby sitter yang selalu melayaninya.
Next, seperti biasa gue makan beberapa porsi CATRICE *nasikucing*. Dan gue baru sadar kalo di angkringan itu hanya ada cowo idiot, cewe baby sitter, dan gue. Kata orang tua sih, kalo ada 2 orang, maka ke-3 nya adalah setan.
Dan gue tersendak megono yang pake sambel sambil tari sufi.
Gue baru sadar, kalo gue lah orang ke 3. Dan gue lah SETANNYA.
NB:
1. Kata kunci horror ada di kata yang dicetak kapital.
2. Waktu itu gue jomblo.
3. Gue dilanda iri.
4. Gue adalah setan.
Horror bukan?
Thanks.
Gue ingat, waktu itu adalah MALAM MINGGU. Perut gue ingin sekali-kali diisi makanan luar. Maksud gue makan di luar, tapi bukan di luar rumah sambil ngeliatin cabe murah sliweran depan rumah. Bukan, maksud gue adalah tidak-makan-dirumah.
Selanjutnya dengan perut kekosongan, gue pergi sendiri malem itu, mencari sajen biar gue ngga jadi serigala. *plis, ini bukan ggs*
Sesampainya di warung angringan langganan gue di seberang pantura sana. Gue mendapati DUA SEJOLI PACARAN yang sedang suap-suapan. Gue curiga, ada beberapa kemungkinan mengapa mereka ini pacarannya suap-suapan:
1. Mungkin cowonya adalah idiot, atau stroke, tidak bisa memegang sendok sendiri, jadi dia minta suapin cewenya.
2. Memungkinkan cowo ini takut kotor, jadi minta suapin cewenya, dan
3. Mungkin cowo ini adalah cowo manja yang kemana mana netek mamanya.
Gue malah liat mereka ini seperti anak idiot dengan baby sitter yang selalu melayaninya.
Next, seperti biasa gue makan beberapa porsi CATRICE *nasikucing*. Dan gue baru sadar kalo di angkringan itu hanya ada cowo idiot, cewe baby sitter, dan gue. Kata orang tua sih, kalo ada 2 orang, maka ke-3 nya adalah setan.
Dan gue tersendak megono yang pake sambel sambil tari sufi.
Gue baru sadar, kalo gue lah orang ke 3. Dan gue lah SETANNYA.
NB:
1. Kata kunci horror ada di kata yang dicetak kapital.
2. Waktu itu gue jomblo.
3. Gue dilanda iri.
4. Gue adalah setan.
Horror bukan?
Thanks.
Minggu, 22 Februari 2015
LEVEL 10
Kejadian ini berawal hari kamis lalu, 19 Februari 2015. Dan gue sedang asik membaca novel baru gue. Yaa begitulah, gue memang gemar baca novel apalagi tentang komedi pake hati punya Raditya Dika. Novel-novel yang gue baca ini ringan, ngga terlalu berbau sastra yang ribet kaya Mahabhrata. Dan HP gue bergetar, gue lihat ada pesan blackberry messenger masuk. Ada tanda bintang di sebelah pojok kiri atas. Gue buka dan ternyata dari Windy sahabat gue. Tumben deh dia bm gue. Biasanya sih ngga pernah. Dia chat ke gue "Lagi dirumah ngga?" kaget lah, waktu itu gue belum mandi. Gue jawab lama, sengaja sih, "Iya, kenapa?" Ngga berapa lama eeh udah nongol aja di depan pintu. Dan dia sama Iwan.
Ternyata dia mau ngajak gue pergi.
Singkat cerita pergilah kita ke sebuah tempat makanan Jepang di daerah gue. Gue memesan satu piring ramen goreng, dan kita semua samaan pesennya. Windy yang lebih dulu menyebut jumlah levelnya "Level 5" dan dari belakang ada suara aneh mirip balon terbang yang bisikin ke telinga gue "Level 10 aja gad, berani ngga?" Bagi gue, level berapapun itu no problem, yang problem adalah, semakin tinggi levelnya, semakin tinggi harganya. Itulah ciri khas makanan Jepang di sini.
Iwan menantang gue untuk makan ramen goreng level 10. Gue terima tantangan Iwan, sekalian gue coba-coba sih.
Ngga berapa lama pelayan gendut yang NGGAK ramah itu dateng. Sebenernya gue agak ngga suka sama pelayan di sini, udah dandanan alay-alay, masih aja judes, lo pikir gue mau godain lo dengan senyuman maut gue? Sorry, gue cewe, lo cewe. Dan kita bukan lesbi karena kita belum saling kenal. Singkat aja, gue habis makan satu piring ramen goreng itu, jujur aja, gue masih aja laper. Bukan tambah kenyang, perut gue jadi tambah mules dan panas. Iwan juga demikian.
Keesokan harinya.
Jam 6.15 gue baru bangun. Gue terlambat bangun. Maklum, waktu itu habis liburan, jadi gue agak kaget bangun pagi. Perut gue masih mules banget, ngga tau mesti ngapain, mau boker gue takut telat masuk sekolah, akhirnya gue putuskan untuk tidak boker pagi itu. Gue mencari batu yang agak panas, tapi gue sadar, kalo pagi itu agak gerimis, jadi ngga ada batu panas. Naik motor dengan kebelet boker membuat gue seperti pemain sirkus tak bertulang, yang lemah gemulai diatas motor, sebenernya lebih mirip penari ular sih. Gue ngga bisa diem pagi itu. Sesampainya gue di sekolah, dengan perut yang MASIH mules, gue mengikuti pelajaran pertama, ya, Kimia. Sambil tari ular diatas bangku, gue ngga peduli temen-temen gue memperhatikan gue dengan muka sinis.
Sungguh gue ngga tahan lagi, gue pengen boker aja. Daripada gini tersiksa dengan tarian mules yang mirip dengan tari ularnya Dewi Sanca. Sebelum jam pelajaran ke tiga gue ijin ke belakang, gue mikir, nanti gue cebok pake apa? Akhirnya gue putuskan untuk "pinjem sebentar" sabun cuci tangan kelas sebelah. Finaly, It's a FIRST TIME I'M BOKER AT MY SCHOOL. Gue nggatau semalem mimpi apa sampe gue boker perdana dan pertama kali di sekolah. Terdengar gila, iya memang. Dan sampe saat ini gue masih membayangkan gimana suasana wc yang saat itu bersahabat dengan porsi perut gue. *porsi? Lo kira ini nasi padang?* dan ngga berselang lama, gue, gayung, dan air di dalam wc pun terusik. Ada suara dari luar yang mengetok-ketok pintu "Jagad eek... Jagad eek" setengah pengen teriak, tapi gue malu. Akhirnya gue diam dalam kesendirian ini. *dramasadis*
Sungguh kisah ini tak bisa gue simpan rapat. Dan terkadang jatuh cinta juga seperti kebelet boker, ditahan sakit, dikeluarin malu. Inilah hidup, kita yang njalanin, mereka yang berkomentar. Kadang hidup memang seanjing itu.
Gue Sabilla Bahana Jagad, terima kasih selama ini udah jadi pembaca setia gue.
Salam daun kelor! \m/
Ternyata dia mau ngajak gue pergi.
Singkat cerita pergilah kita ke sebuah tempat makanan Jepang di daerah gue. Gue memesan satu piring ramen goreng, dan kita semua samaan pesennya. Windy yang lebih dulu menyebut jumlah levelnya "Level 5" dan dari belakang ada suara aneh mirip balon terbang yang bisikin ke telinga gue "Level 10 aja gad, berani ngga?" Bagi gue, level berapapun itu no problem, yang problem adalah, semakin tinggi levelnya, semakin tinggi harganya. Itulah ciri khas makanan Jepang di sini.
Iwan menantang gue untuk makan ramen goreng level 10. Gue terima tantangan Iwan, sekalian gue coba-coba sih.
Ngga berapa lama pelayan gendut yang NGGAK ramah itu dateng. Sebenernya gue agak ngga suka sama pelayan di sini, udah dandanan alay-alay, masih aja judes, lo pikir gue mau godain lo dengan senyuman maut gue? Sorry, gue cewe, lo cewe. Dan kita bukan lesbi karena kita belum saling kenal. Singkat aja, gue habis makan satu piring ramen goreng itu, jujur aja, gue masih aja laper. Bukan tambah kenyang, perut gue jadi tambah mules dan panas. Iwan juga demikian.
Keesokan harinya.
Jam 6.15 gue baru bangun. Gue terlambat bangun. Maklum, waktu itu habis liburan, jadi gue agak kaget bangun pagi. Perut gue masih mules banget, ngga tau mesti ngapain, mau boker gue takut telat masuk sekolah, akhirnya gue putuskan untuk tidak boker pagi itu. Gue mencari batu yang agak panas, tapi gue sadar, kalo pagi itu agak gerimis, jadi ngga ada batu panas. Naik motor dengan kebelet boker membuat gue seperti pemain sirkus tak bertulang, yang lemah gemulai diatas motor, sebenernya lebih mirip penari ular sih. Gue ngga bisa diem pagi itu. Sesampainya gue di sekolah, dengan perut yang MASIH mules, gue mengikuti pelajaran pertama, ya, Kimia. Sambil tari ular diatas bangku, gue ngga peduli temen-temen gue memperhatikan gue dengan muka sinis.
Sungguh gue ngga tahan lagi, gue pengen boker aja. Daripada gini tersiksa dengan tarian mules yang mirip dengan tari ularnya Dewi Sanca. Sebelum jam pelajaran ke tiga gue ijin ke belakang, gue mikir, nanti gue cebok pake apa? Akhirnya gue putuskan untuk "pinjem sebentar" sabun cuci tangan kelas sebelah. Finaly, It's a FIRST TIME I'M BOKER AT MY SCHOOL. Gue nggatau semalem mimpi apa sampe gue boker perdana dan pertama kali di sekolah. Terdengar gila, iya memang. Dan sampe saat ini gue masih membayangkan gimana suasana wc yang saat itu bersahabat dengan porsi perut gue. *porsi? Lo kira ini nasi padang?* dan ngga berselang lama, gue, gayung, dan air di dalam wc pun terusik. Ada suara dari luar yang mengetok-ketok pintu "Jagad eek... Jagad eek" setengah pengen teriak, tapi gue malu. Akhirnya gue diam dalam kesendirian ini. *dramasadis*
Sungguh kisah ini tak bisa gue simpan rapat. Dan terkadang jatuh cinta juga seperti kebelet boker, ditahan sakit, dikeluarin malu. Inilah hidup, kita yang njalanin, mereka yang berkomentar. Kadang hidup memang seanjing itu.
Gue Sabilla Bahana Jagad, terima kasih selama ini udah jadi pembaca setia gue.
Salam daun kelor! \m/
Langganan:
Postingan (Atom)