Sabtu, 03 Desember 2016

Bolehkah?

Ragamu di sini namun jiwamu tak lagi.
Hujan sore ini sudah mewakili rasaku. Rasa yang beranjak dingin ketika engkau seperti menyembunyikan sesuatu. Entah apa itu. Aku di sini masih mempercayaimu. Aku percaya segala ucapan dan tingkah lakumu. Walau dimasa lalu engkau mempermainkanku. Aku merasa sore ini aku kehilangan satu keping hati. Setelah yang kemarin berlalu, akankah ini semua juga berlalu? Bolehkah aku sejenak tak mempercayaimu seperti biasanya? Bolehkah?


Meski sakit menderu dan menghujam disetiap inchi hati ini namun aku tidak akan menyerah sampai di sini.
Sakit ini, air mata ini, keringat ini, perjuangan ini, aku yakin tidak akan sia-sia. Aku hanya perlu menunggu kapan semua kebenaran akan terungkap. Karena selama apapun bangkai yang disimpan, pasti akan tercium. Aku yakin Tuhan tidak pernah tidur dan selalu mendengar setiap huruf dari doaku. Aku tak akan meremehkan, kekuatan do'a. Aku hanya perlu bersabar.

Lalu, bolehkah aku sejenak untuk tak mempercayaimu? Bolehkah aku melakukan seperti yang kau lakukan saat ini kepadaku? Bolehkah jika aku berperilaku sepertimu? Setelah semua yang telah terjadi. Bolehkah jika aku juga mencintai yang lain sepertimu? Bolehkah aku sejahat dan setega itu? Bolehkah? Mungkin kau menjawab "TENTU SAJA"

Namun aku tak ssebangsat itu. Karena sejauh ini yang aku pahami tentang arti mencintai adalah : Bagaimana kita bertahan ketika situasi tidak memungkinkan, bagaimana caranya kita setia ketika diuji dengan godaan seperti cewek lain atau cowok lain, bagaimana cara menjadi pribadi yang lebih tegar, dan bagaimana cara kita MEMBALASNYA.

Tentu aku akan membalasmu. Dengan prestasiku. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak layak kau sepelekan.
Tunggu saja.





Minggu, 27 November 2016

WHEN YOU REALIZE

Baru aku sadari. Aku sekarang sudah hampir dewasa. Aku sudah memasuki kawasan perkuliahan. Jauh dari orangtua, jauh dari keluarga. Dan tentu saja rasanya sangat menyakitkan. Terkadang aku ingin menggunakan mesin waktu Doraemon untuk melihat kembali kenangan apa yang telah aku lalui bersama orangtua ku, dan orang-orang di masa lalu ku.
Kenangan saat aku masih berjalan menggunakan rak piring, saat aku masih tertatih untuk berjalan, saat aku merekam semua kosa kata, saat aku mulai bersekolah, saat aku bergaul dengan teman-temanku, saat aku dibully, saat aku menemukan sahabat karibku di SMA, saat aku menemukan cinta-cinta ku yang dulu, dan tentunya waktu luang bersama keluarga.

Baru aku sadari, aku makin tua untuk melakukan segala hal. Rasanya aneh mandi air hujan disaat usiaku menginjak 18 tahun ini, rasanya aneh aku bersepeda dan menggunakan botol plastik lalu diselipkan ke dalam roda sepeda itu. Rasanya aneh untuk sekedar memeluk orangtua, rasanya aneh bermain masak-masakan dan bersandiwara. Aneh...

Entah mengapa aku hanya ingin menulis ini. Aku merasa ada sesuatu yang salah di dalam otakku. Rasanya seperti ada yang memaksa untuk membuka semua momen-momen yang selama ini aku lalui. Dan itu sangat sakit. Aku menyadari bahwa aku bukan “Billa” yang dulu memakai kaos dan celana dalam sambil bermain sepeda mengitari pasar. Aku sangat yakin. Ada yang mengganti diri ini.

WAKTU.

Aku berpikir bahwa waktu adalah hal yang paling kejam. Ia merenggut semua yang aku sayangi. Aku kehilangan nenekku. Tepat, 13 Februari 2010. Tepat di hari ulang tahunku. Tepat di hari bertambahnya umurku. Waktu juga tidak segan untuk merubah kita. Entah itu menjadi kita lebih tambah baik atau malah sebaliknya. Aku merasa diri ini bukan diriku. Dan aku yakin itu karena sang waktu. Aku tidak sepenuhnya menyalahkan waktu. Aku juga menyalahkan keadaan. Keadaan sekitar yang membuat aku menjadi sosok yang sekarang ini. Rasanya ada trauma tersendiri ketika mengingat hal yang tak ingin terjadi. Seperti mamah dan aku keceakaan 17 Juni 2014. Saat aku dan mamahku hendak mengambil rapot. Aku tidak bisa membayangkan hal itu. Itu sangat menyakitkan. Memandang mamah kesakitan dan terkapar di jalan. Tak ada yang menolong. Hingga mamah mengalami shock berat. Aku juga tidak bisa lupa. Bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang kita sayangi. Begitu banyak kesedihan yang aku lalui. Hingga aku setegar ini.

Mungkin karena itu aku menjadi sosok sekarang ini.

Entah bagaimana nantinya dengan sifat dan sikapku sekarang. Akankah happy ending atau sad ending? Aku tidak akan pernah tau. Yang aku tau hanya : let it flow. Karena pertunjukkan akan segera berlalu.



 MY CHILDHOOD





MASA SMP



MASA SMA



DENGAN SAHABAT



MY MY MY MY EVERYTHING



DAN KENANGAN APAPUN SELALU MENGHANTUI.
IA TAKKAN PERNAH BISA DILUPAKAN. SEKERAS APAPUN KITA MELUPAKAN.

Rabu, 25 Mei 2016

Jatuh Cinta Kepadamu, Teman Kanak-Kanak Ku.

Takdir Tuhan siapa yang menyangka? Semua begitu misterius. Tidak ada yang bisa menebak takdirNya. Mungkin ini mustahil untukku bisa bertemu, dan bahkan bisa berpacaran dengan orang cuek sepertinya. Ya, aku beruntung. Aku bisa menaklukannya, orang yang terkenal cuek, bahkan tidak peduli
dengan siapapun, lebih lebih dengan anak perempuan.
Semua berawal dari chatting iseng ku menanyakan "kabarnya kamu akan pindah sekolah?" Aku ingat betul pertama kali aku membuka chatting. Awalnya iseng, jadi seneng. Cinta emang datangnya dadakan. Kaya tahu bulat.

Akhirnya aku memutuskan untuk jadi secret admirer dia di sekolah. Sekolah kami sama, hanya beda kelas, aku IPA, dia IPS. Setiap hari aku mengamatinya dari jauh, aku mondar mandir di kelasnya, berharap bisa bertemu, aku berharap aku bisa tegur sapa. Namun hanya 0.9% kemungkinan dia mau bertegur sapa.
Rasa ini semakin berat, rasa ini tidak mau hilang, dan waktu tetap berjalan. Aku bingung harus bagaimana, pernah berfikir untuk berhenti mencintainya. Tapi? Malah semakin berat rasaku.
Percaya tidak percaya, aku bisa merasakan hentakan kakinya ke tanah, dan langkah kecilnya menuju suatu tempat. Inikah kemistri? Entah. Saat itu, hentakan kakinya mampu mendebarkan hatiku, aku ingat betul bagaimana perasaanku ketika ia lewat depan kelasku. "Akmaaaaaaal, Vitaaaaaaa. Lihat siapa yang barusan lewaaaat!!!" Aku selalu berkata begitu pasca ia lewat depan kelasku. Dan lagi. Rasa ini  kuanggap sia sia. Mana mungkin perempuan sepertiku bisa dengannya? Kecil kemungkinan.

Hari telah berganti, tak bisa ku hindari, jantungku berdegup kencang, kaki bergetar hebat. Lirik lagu yang terus menerus ku putar di HPku. Apakah salah jika hati ini berharap lebih kepadanya? Maybe.
Aku tidak bisa berkutik. Aku berani pulang sore, hanya karena menunggunya pulang terlebihdahulu. Dan tatapan matanya? Rasa rasanya seperti elang yang hendak menikam siapapun. Mata yang membuat seluruh tubuh ini tak bisa digerakkan. Ah, rasa ini menguasaiku terlalu dalam.
Hingga tiba saatnya, aku tidak kuat lagi menahan rasa ini. aku mengirimkan chatting di akun LINE miliknya. Antara bersyukur atau malah sedih, LINE miliknya off sejak lama.
Maju mundur aku mencintainya.
terkadang hati iya, namun pikiran tidak. Selalu tidak sinkron. terkadang aku berpikir bahwa akulah yang paling sengsara menjadi secret admirer. Mengaguminya, memandangnya, menatap setiap langkahnya, melihat ia bercanda dengan teman temannya. "Apa mungkin?"

Ada suatu hari aku benar benar malu terhadap diriku sendiri. Aku marah, aku menyesal, aku benar benar serasa sangat menyesal mencintainya. Aku melihatnya sedang memberi flashdisk berwarna putih *aku pikir itu flashdisknya* kepada perempuan. Aku kenal perempuan itu, aku kenal siapa dia. Aku hancur, aku mendobrak pintu kelas, aku menangis. Aku menyadari, betapa cacatnya aku saat ini, aku yang tidak sempurna, aku yang bukan apa apa, mana bisa jadi siapa siapamya dia? dibanding perempuan itu, aku jauh tertinggal. Maaf. Aku harus mundur. Aku menangiTapi aku malu mengakui, kenapa aku menangis.
Why? Kenapa? Kenapa selalu begini? Kenapa aku yang menanggung indahnya jatuh cinta
dan ia mematahkannya begitu saja? Kenapa? Apa orang sepertiku tidak pantas dicintai?
Aku mundur teratur. Aku mulai menghapus semua chattingnya. Aku mulai menghapus fotonya di HPku dan berjanji aku tidak akan pernah chat dengannya. Aku kira ia benar benar cuek terhadap perempuan. Dan ternyata hanya kepadaku ia begitu. Luka yang sulit disembuhkan. Terima kasih.
Singkat cerita, aku yang sedang kecewa dan akan melupakannya. Dia datang ke rumahku tanpa dosa. Rasa kecewa seakan hilang. Dan aku? Kembali mencintainya.
Dengan canggung, aku memulai membuka cerita "kamu mau kemana?" Dia menjawab "Aku mau ke rumah mbah kakung, ngambil baju sama sempak ketinggalan"
Sekitar 45 menit kita ngobrol. Dia pamit pulang. dan aku hanya bisa berharap. KAPAN SIH BISA GINI TERUS?
Ngga lama, lewat aplikasi WHATSAPP, Dia mulai membuka chat "Gad"
Hanya sesimple itu dia bisa bikin terbang kesana kemari.
"Pacaran yuk" (???????????)
Aku heran, bingung, dan hampir mati. Ini antara mimpi, atau nyata? Aku tampar pipiku, aku cubit kecil tangan ini, ternyata sakit dan ini NYATA!
Tepat, 25 September 2015, pukul 21:05 aku resmi ditembak.

Hubungan kami berjalan hingga saat ini, banyak yang sudah kita lalui. Susah, sedih, senang, dan bahagia kita lewati bersama. kadang masih ada konflik. Hehehe.

Muhammad Kahfi Fathurrizqi
Teman semasa TK, yang dipisahkan selama 9 tahun, akhirnya kembali, dengan rasa spesial.          
 Dan cuma mau ngucapin, HAPPY ANNIVERSARY 8 MONTHS!
Selama ini kita bersama. Mungkin tidak seperti hubungan Rani dan Mas Toni, Vita dan Mas Anton. Tapi aku yakin, 8 bulan kita tidak kalah dengan mereka. 8 bulan ini banyak yang kita lalui, 8 bulan penuh pelangi. Terima Kasih.


-Sabilla Bahana Jagad-