Hari Ini, Esok, dan Seterusnya.
Mungkin seribu kali kuputar lagu ini, sampai aku terlelap dan tidur diatas bantal Domo pemberian Mbak Nana. Mungkin butuh waktu lama untuk bisa terima kenyataan. Mungkin butuh orang baru yang harus masuk ke sela-sela hidupku agar mereka mengerti. Siapa aku ini...
Hari terus berganti, dan aku masih jadi yang teraneh dari mereka. Mereka yang aku anggap satu bangsa. Ya, bangsa manusia. Siapa aku ini? Kenapa kau pergi namun aku tidak menangis? Kau pergi meninggalkan luka, tetapi bukan dihatiku. Melainkan di otak ini. Aku beruntung kau menyakiti otakku, karena akan cepat hilang.
Butuh waktu lama untuk menyembuhkan semuanya.
Aku anggap semuanya baik-baik saja, aku anggap semuanya tidak ada apa-apa. Kau bilang ini karena takdir. ya, aku sadar, aku tak pantas bagimu.
Masih sempat kuingat dulu kau berkata apa lagi. Kau berkata tak akan meninggalkanku, kau berkata akan slalu disampingku. Ah, anak laki-laki memang suka begitu. Hingga kau putuskan hubungan ini. Namun aku biasa saja. Bagaimana denganmu? Mungkin karena kau sudah biasa menyakitiku dan aku terbiasa tersakiti olehmu. Terima kasih untuk semuanya, terima kasih kau telah mewarnai hidupku (sebelumnya) terima kasih untuk semuanya. Pelangi itu indah di mataku. Namun hanya sekejap saja.
Hari ini aku menjalani hidupku yang baru, dan esok akan lebih baru lagi, sampai seterusnya, aku tanpamu, tetaplah aku. :)
Hari ini, esok, dan seterusnya. Kau kuanggap bayangan semu di dalam ruang otak yang usang lekang oleh waktu dan sekejap lalu hilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar